Selasa, 19 Juni 2018

Burung (Bird.1)


Ngunandiko.149





Burung
(Bird.1)


Seperti halnya anjing, kuda, sapi, dan hewan peliharaan lainnya ; burung sudah sejak dahulu  dipelihara oleh manusia. Bahkan jenis burung-burung tertentu melambangkan kedudukan dari manusia di masyarakat-nya, bagi yang memeliharanya. Pada kesempatan ini “Ngunandiko” ingin secara singkat membahas dan merenungkan perihal “burung”.

Dimuka bumi ini ada lebih kurang 9.000 jenis (species) burung ; ukuran  dan kebiasaannya (termasuk kemampuan terbangnya) sangat bervariasi, Sebagian besar burung dapat terbang. Burung telah dipelihara oleh manusia lebih dari 4000 tahun yang lalu.


Seperti diketahui burung adalah nama umum untuk golongan binatang, bertulang punggung (CHORDATA) kelas Aves ; bertelur, berbulu, dan anggota badan bagian atas berubah bentuk menjadi sayap. Bulunya sangat ringan hampir-hampir tidak memiliki berat.

Dimuka bumi ini ada lebih kurang 9.000 jenis (species) burung ; ukuran  dan kebiasaannya (termasuk kemampuan terbangnya) sangat bervariasi, Sebagian besar burung dapat terbang. Burung telah dipelihara oleh manusia lebih dari 4000 tahun yang lalu.

Kita semua mengetahui, bahwa terbang adalah suatu kegiatan yang  mustahil bagi mahluk hidup pada umumnya. Jika mahluk dapat terbang, maka tarikan dan tegangan terhadap tulang dan ototnya adalah luar biasa. Selain itu sensivitas perasaan, seperti ketanjaman dalam merasakan keseimbangan dan pengelihatan harus memiliki sifat khusus.

Tidak semua jenis burung dapat terbang,  burung yang dapat terbang harus memiliki anggota tubuh dengan bentuk dan kekuatan khusus. Anggota tubuh tersebut utamanya adalah : bulu (feathers), kerangka tubuh dan otot (skeleton and muscles), organ dalam (interior organs), system saraf (nerves and senses), dan keserasian untuk terbang (flight).

Setiap makhluk hidup diturunkan dari bentuk kehidupan yang sederhana, yang muncul  pertama kali di bumi 2 atau 3 miliar tahun yang lalu. Jadi setiap makhluk hidup sekarang ini, adalah produk akhir (hasil) dari sejarah panjang dan rumit. Untuk memahami tanaman atau hewan masa kini, perlu diketahui sesuatu tentang nenek moyang besar mereka yang telah hidup sebelumnya.


Burung pertama kali muncul di "family tree (pohon keluarga)"  vertebrata sekitar 150 juta tahun yang lalu, berada pada cabang  garis reptil. Ada fosil yang diketahui dari leluhur dekat burung ini.


Sekitar 400 juta hingga 450 juta tahun yang lalu, vertebrata pertama (hewan dengan tulang punggung) muncul di muka bumi. Itu adalah hewan air mirip ikan. Hewan-hewan itu adalah awal dari arus besar kehidupan vertebrata yang telah menghasilkan semua hewan dengan tulang punggung yang kita kenal sampai hari ini yaitu : ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia.


Family Tree Vertebrata

Burung pertama kali muncul di "family tree (pohon keluarga)" vertebrata sekitar 150 juta tahun yang lalu, berada pada cabang garis reptil. (Mamalia pertama ber-evolusi pada waktu yang hampir bersamaan, meskipun mereka berasal dari kelompok reptil yang berbeda). Ada fosil yang diketahui oleh manusia dari leluhur dekat burung.

Namun perlu kita ketahui bahwa sedikitnya ada dua pendekatan dari asal muasal (leluhur) burung pada khususnya dan mahluk hidup pada umumnya.


  • Pertama      : pendekatan menurut “theory evolusi” seperti antara lain dikemukakan oleh Darwin, dan

  • Kedua        : pendekatan menurut “theory penciptaan (creation theory atau creationism)”.

Creationisme, the belief that the universe and the various forms of life were created by God out of nothing (ex nihilo). It is a response to modern evolutionary theory, which explains the emergence and diversity of life without recourse to the doctrine of God or any other divine power. Mainstream scientists generally reject creationism (Encyclopedia Britannica).

Pendekatan menurut theory evolusi Darwin misalnya, kemungkinan besar burung adalah berasal reptil kecil, ringan, lincah, dan hidup di pohon. Burung-burung yang penggunaan kemampuannya meluncur sangat kecil, akhirnya dapat terbang adalah merupakan keuntungan luar biasa. Terbang  membantu-nya dapat bergerak dengan bebas untuk menemukan makanan. Tetapi keuntungan yang paling penting mungkin adalah keamanan bagi hewan kecil itu.

Perhatikan, bagaimanapun, bahwa burung tidak turun dari reptil terbang, pterosaurus. Reptil ini hidup pada waktu yang sama dengan burung purba. Namun mereka berbeda dari burung dalam anatomi dan metode terbang mereka.

Rekaman fosil burung dan nenek moyang dekat mereka, jauh dari lengkap. Hewan-hewan berbadan ringan di pepohonan dan udara, sering  mati tidak di tempat-tempat di mana lumpur atau gua dapat melestarikan mayat-mayatnya. Ada banyak dugaan dalam pemikiran manusia  tentang burung purba. Manusia  memperoleh dua spesimen fosil burung yang sangat tua. Spesimen yang hampir lengkap ditemukan di Bavaria pada tahun 1861. Kemudian pada tahun 1877, spesimen fosil burung yang lain ditemukan tidak jauh dari tempat yang pertama. Sekitar 150.000.000 tahun sebelumnya, sebagian dari bumi ini telah menjadi laut hangat yang ditumbuhi pulau-pulau dan karang. Spesimen pertama diberi nama “Archaeopteryx”, yang berarti "kuno" ( Another name was given to the other specimen, but the birds were so similar that it is possible to group under the name Archaeopteryx )

Burung-burung itu, pada masa yang lalu,  terbang menuju kematian-nya di air laut dangkal. Disitu burung-burung itu tertanam di lumpur (limy mud). Lebih banyak lumpur dalam bentuk endapan yang menenggelamkan-nya sebelum bangkai burung itu diurai atau dihancurkan dengan cara-cara lain. Kemudian melalui masa yang lama, lumpur mengeras dan tertekan menjadi batu kapur berbutir halus.

Jutaan tahun yang lalu laut dangkal itu menghilang, serta kekuatan besar  mengangkat dan memiringkan kerak bumi membentuk pegunungan Bavaria. Sementara itu orang primitif berevolusi dan muncul di bumi untuk pertama kalinya. Peradaban lalu tumbuh seperti di Sumeria, Mesir, Yunani dan Roma kuno, kemudian berkembang, makmur, dan kemudian memudar. Beberapa tukang batu pada masa sesudahnya (di masa yang lebih modern), ketika bekerja di tempat kerjanya, menemukan sisa-sisa burung tua itu, yang bersayap kuno. Kisah fosil itupun menjadi mengasyikkan. Tapi kisah tulang burung purba ini adalah sangat dramatis. Kedua spesimen itu  adalah sangat — langka, lebih berharga daripada permata dan tak ternilai harganya bagi ilmu pengetahuan.

Fosil-fosil, terutama yang pertama kali ditemukan, adalah salah satu yang paling indah dan halus. Mereka jelas menunjukkan kesan sayap dan bulu ekor serta detail yang baik dari suatu kerangka. “Archaeopteryx” sangat mirip dengan nenek moyang reptilnya, yang pasti tampak seperti kadal berbulu (befeathered), seukuran ayam jago beasr dan memiliki kepala reptil seperti gigi tajam. Tiga "jari" di sayapnya memiliki cakar, yang mungkin digunakan dalam memanjat. Ekornya panjang dan bersendi, dengan sekitar 19 tulang belakang (tulang). Tidak ada jejak lunas pada tulang dada kecilnya, dan sayapnya pendek dan bulat – tulang belakangnya menyatu (bersatu) daripada pada burung modern. Dan tidak seperti burung modern, tulang tidak berongga dan berisi udara.

Archaeopteryx

Namun, makhluk purba ini memiliki bulu dan hampir pasti berdarah panas. Bulu dan berdarah panas adalah dua ciri utama yang membedakan burung dari nenek moyang mereka reptil. Jadi “Archaeopteryx” tidak diragukan lagi adalah seekor burung, meskipun apa yang kita sebut itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah bahwa hal ini adalah sisa-sisa binatang purba yang hampir persis antara burung modern dan reptil purba. Kita mungkin menganggap “Archaeopteryx” sebagai penghubung di dalam perubahan kehidupan yang lambat dan hampir ajaib, atau yang disebut evolusi, Hubungan antara makhluk-makhluk abu-abu, dingin, bersisik dari masa lalu yang jauh dengan makhluk berbulu  yang kita lihat di kebun, ladang, dan hutan kayu kita hari ini. .

Sekilas tampak jelas bahwa sejarah burung dimulai sekitar 30.000.000 tahun yang lalu. Hal itu ditunjukkan oleh adanya spesimen fosil dari dua jenis burung purba “Hesperornis” dan “Ichthyornis”. Burung-burung ini hidup selama periode “Cretaceous”, yang terkenal sebagai zaman dinosaurus. Banyak fosil dari kedua burung itu ditemukan di deposit kapur di Kansas.
Hesperornis adalah burung besar yang berenang dan menyelam yang tampaknya hidup terutama di air. Kakinya terletak jauh di belakang tubuhnya dan mereka juga menunjuk ke belakang. Kakinya besar, seperti pengayuh (paddlelike), dan benar-benar diadaptasi untuk berenang. Hesperornis mungkin tidak bisa berjalan dengan baik di daratan kering, dan mungkin hanya keluar dari air untuk bertelur dan merawat telurnya. Tulang sayap tunggal-nya diketahui sangat kecil, sehingga burung air ini harus kehilangan kekuatan terbangnya.
Ichthyornis berbeda; lebih seperti burung modern. seukuran ikan tern (semacam ikan tuna) atau burung camar kecil. Ichthyornis  memiliki lunas yang dalam dan merupakan penerbang yang kuat. Otak-nya, dilihat dari bentuk tengkorak-nya, sangat mirip dengan burung masa kini.
Baik “Hesperornis” dan “Ichthyornis” telah lama dianggap memiliki gigi, karena  itu juga berarti bahwa semua burung pada periode “Cretaceous” dan sebelumnya memiliki gigi. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa rahang bergigi yang terlibat, mungkin bukan milik reptil renang kecil dari periode yang sama. Jadi sekarang tidak lagi pasti bahwa semua burung “Cretaceous”  memiliki gigi.

Hesperornis

Hal yang sangat penting yang ditunjukkan oleh fosil-fosil “Hesperornis” dan “Ichthyornis” adalah bahwa evolusi burung sangat maju pada masa periode “Kapur”. Dan pasti ada banyak jenis burung, karena deret yang kita tahu sangat berbeda satu sama lain. “Hesperornis” telah berubah sangat banyak karena menjadi spesialis renang yang kehilangan kekuatan terbang, seperti halnya penguin hari ini. “Ichthyornis” telah menjadi lebih seperti burung modern daripada Archaeopteryx. Pada zaman dinosaurus, pasti ada banyak variasi dari kehidupan burung.

Akhir periode Cretaceous menandai berakhirnya Zaman Besar Reptilia. Gerombolan dinosaurus dan banyak hubungan mereka perlahan-lahan punah; di antara mereka adalah reptil terbang. Tetapi burung-burung itu lebih sukses dari sebelumnya; mereka terus berkembang terus menjadi lebih dan lebih seperti burung-burung hari ini (modern birds).

The Cretaceous was a period with a relatively warm climate resulting in high eustatic sea levels that created numerous shallow inland seas. These oceans and seas were populated with now extinct marine reptiles ammonites and rudists, while dinosaurs continued to dominate on land. During this time, new groups of mammals and birds as well as flowering plants appeared (Wikipedia)

Fosil yang berasal dari sekitar 60.000.000 tahun yang lalu dapat dikenali sebagai nenek moyang dari elang, elang, bangau, bebek dan angsa, dan keluarga ayam. Selama EPOCH PLIOCENE, 10.000.000 tahun yang lalu, ada kelompok burung yang hubungan dekatnya sangat hidup hari ini. Sebagian besar spesies yang hidup selama zaman es Pleistosen masih hidup hari ini.

Burung mungkin sekarang melewati puncak jumlah dan keragaman terbesar mereka. Selama zaman Miosen dan Pliosen, sebagian besar dunia memiliki iklim yang hangat, bahkan lembap. Banyak sekali kehidupan burung tropis masa kini yang menunjukkan kekayaan kehidupan burung yang pasti telah berkembang di sebagian besar dunia di masa-masa yang hangat, nyaman, sebelum dinginnya zaman es merayap di atas tanah.

Tidak ada dua makhluk yang dilahirkan persis sama. Beberapa perbedaan yang muncul pada makhluk hidup tidak penting dalam kehidupan. Perbedaan lain mungkin berbahaya atau fatal bagi makhluk di mana mereka berasal. Namun sementara beberapa fitur baru yang bermanfaat muncul.

Hewan atau tumbuhan yang memilikinya mampu hidup sedikit lebih baik daripada yang lain dari jenisnya. Hewan atau tumbuhan semacam itu cenderung memiliki lebih banyak keturunan daripada mereka yang tidak memiliki fitur baru yang menguntungkan. Dengan demikian mereka berkembang biak dan memberikan keuntungan pada jumlah keturunan yang lebih besar. Akhirnya seluruh populasi spesies datang untuk memiliki fitur baru. Istilah bagi perbedaan yang menguntungkan dalam sebuah perubahan ini adalah adaptasi. Adanya adaptasi semacam itu, yang muncul secara tidak sengaja, bahwa makhluk hidup perlahan berubah, atau berevolusi, selama jutaan tahun.

Sebagian besar fitur dari setiap makhluk hidup bersifat adaptif. Misalnya, bangau memiliki kaki panjang yang memungkinkannya menyeberangi air yang cukup dalam untuk mencari makanan. Taringnya yang panjang dan tepi bagian dalam memiliki celah yang mengarah ke belakang  menjaga ikan licin  tidak dapat melarikan diri. Ini dan adaptasi lain membuat cara hidup burung (bangau) menjadi mungkin.

Burung hantu memiliki cakar yang tajam, melengkung, dan menggenggam sebagai milik burung pemangsa. Ia juga memiliki mata yang sensitif terhadap cahaya redup, indera pendengaran ekstra tajam (bagus), dan bulu dengan pinggiran halus lembut yang memungkinkan penerbangan hampir senyap (tidak bersuara). Adaptasi ini dan banyak lainnya memungkinkan burung hantu untuk hidup sebagai burung pemangsa malam hari.

Crossbill adalah anggota keluarga finch. Seperti burung pipit lainnya, ia memiliki tulang keras yang sangat kuat untuk makan biji-bijian. Namun, taring crossbill bahkan lebih khusus dari ini. Ini diadaptasi untuk memakan biji pinus dan pohon-pohon penghasil biji-bijian lainnya. Burung dapat mengekstrak biji dari antara sisik kerucut karena "persimpangan" yang luar biasa dari taringnya. Di satu sisi, crossbill memiliki adaptasi khusus di atas adaption khusus.

Sejauh ini hasil adaptasi seolah-olah adalah fitur terpisah yang ditempelkan pada hewan seperti gadget di mobil. Sebenarnya, makhluk hidup adalah kumpulan adaptasi — itu terdiri dari hasil adaptasi. Hidup itu sendiri dalam sebuah adaptasi memungkinkan bahan-bahan tak hidup bergabung menjadi koleksi bahan kimia yang dapat tumbuh dan berkembang biak. Ada beberapa adaptasi penting lainnya, yang akan kita sebut adaptasi dasar. 

Pengembangan tulang punggung kaku pada ikan purba adalah fitur dasar yang memungkinkan semua kehidupan vertebrata nantinya. Adaptasi dasar lainnya perlahan mengubah kandung kemih ikan yang berenang ke paru-paru yang bernapas dengan udara dan membuka dunia udara untuk hewan tulang punggung. Adaptasi yang kita sebut kaki berevolusi dari sirip ikan-ikan cuping kuno tertentu; adaptasi ini memungkinkan vertebrata bernapas untuk berjalan dan hidup di darat.

Adaptasi dasar burung adalah mereka yang memungkinkan terbang. Ini dikembangkan dengan baik di “Archaeopteryx”. Tetapi setelah beberapa adaptasi dasar muncul dan makhluk-makhluk berkembang yang mampu hidup dengan cara yang benar-benar baru, panggungnya diatur untuk banyak adaptasi khusus yang lebih kecil.

Setelah penerbangan berkembang di burung, datanglah burung air yang beradaptasi untuk berenang serta terbang; burung berkaki dan pantai yang panjang dan berkaki panjang; burung pemangsa yang dilengkapi dengan cakar dan paruh tajam; burung pemakan biji, buah - makanan burung, dan serangga - makan burung; burung-burung di hutan yang dalam dan burung-burung di padang rumput atau gurun; burung-burung di utara yang menjadi putih di musim dingin; burung malam; pejuang lambat; selebaran cepat; dan bahkan non-liers — burung yang kehilangan kekuatan terbang ketika itu tidak lagi memiliki keuntungan khusus.

Ada nama untuk jenis perubahan ini, atau evolusi, yang terjadi dalam kelompok makhluk hidup setelah beberapa fitur kehidupan baru yang penting dan mendasar telah muncul. Ini disebut  “radiasi adaptif”. Makhluk hidup memancar keluar untuk mengambil keuntungan dari setiap cara yang mungkin untuk mencari sumber kehidupan (nafkah) untuk jenis-nya. Setiap cara dan tempat yang mungkin di mana kehidupan bisa ada diisi dengan sumber kehidupan.

Burung, melalui fosil-fosilnya, belum banyak menyediakan bahan-bahan yang cukup untuk dipelajari hasil evolusi-nya. Tetapi kehidupan burung di muka bumi ini (“keajaiban dan keindahan-nya”) telah  memberikan banyak bahan untuk dipelajari, khususnya perubahan  radiasi adaptif-nya”.


Kegemaran (hobby) memelihara burung menjadi sebuah kegembiraan  bagi  sebagian masyarakat. Warna, jenis, dan bunyi (suara) adalah menjadi daya tarik tersendiri.


Seperti halnya anjing, kuda, sapi dan sejenisnya, maka burung seperti burung merpati dan lain-lain; berbagai jenis ayam maupun angsa juga sudah sejak dahulu  telah dipelihara oleh manusia. Bahkan jenis-jenis burung tertentu melambangkan kedudukan dari manusia yang memeliharanya di masyarakat. 

Memelihara hewan termasuk memelihara burung  adalah salah satu kegemaran (hobby) yang populer saat ini, hal itu sesungguhnya telah dilakukan oleh banyak orang selama ratusan tahun yang lalu.

Kegemaran (hobby) memelihara burung menjadi sebuah kegembiraan  bagi sebagian masyarakat. Warna, jenis, dan bunyi (suara) adalah  menjadi daya tarik tersendiri. Kegemaran (hobby) memelihara burung,  ternyata juga melekat pada  orang nomor satu di negeri ini, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

Di Istana Bogor, ada banyak hewan peliharaan-nya, burung adalah salah satunya. Dalam menekuni kegemaran (hobby) ini, Jokowi tidak main-main, beliau mengikutsertakan burung peliharaannya di sebuah ajang perlombaan-perlombaan burung. Burung perkutut adalah salah satu burung yang sering diperlombakan (utamanya karena suaranya).

Burung perkutut di masyarakat Jawa dipercaya bertuah, salah satu jenis burung bertuah adalah perkutut putih, perkutut ini dahulunya memiliki sejarah sendiri pada jaman kerajaan Majapahit. Perkutut tipe ini hanya dipelihara oleh sang raja atau pimpinan bawahan raja.

Perkutut

Dalam pasaran perkutut putih ini termasuk sangat langka, dan harganya pun tidak semurah perkutut lainnya. Banyak mitos jawa menyebutkan bahwa barang siapa yang memelihara burung perkutut putih akan berwibawa dan sangat kaya, hingga burung tersebut meninggal (bersambung).

*
 Faith is the bird that feels the light when the dawn is still dark. (Rabindranath Tagore)

Read more at: https://www.brainyquote.com/topics/bird
*

Senin, 07 Mei 2018

Mutiara (Aldolfo Perez Esquivel)


Ngunandiko.147






Mutiara
(Aldolfo Perez Esquivel)


Ngunandiko dengan judul "Mutiara (Aldolfo Perez Esquivel)" ini berisikan beberapa "quotation" dari Adolfo Perez Esquivel (1931 -- . . . ) , hal ini dimaksudkan untuk mengenang pemikiran dan pandangan tokoh Hak Azazi Manusia (HAM) Argentina serta penerima Penghargaan Perdamaian Nobel 1980 ini.

"Quotation" ini diambil secara acak dari berbagai sumber untuk menggambarkan pandangan-pandangan Adolfo Perez Esquivel  tentang masalah-masalah social dan politik, khususnya yang berkaitan dengan HAM. agar  kita dapat mengingatnya dan merenungkannya kembali. Quotation-quotation tersebut antara lain adalah sbb:

Argentina
  • Consider in 1945, when the United Nations was first formed, there were something like fifty-one original member countries. Now the United Nations is made up of 193 nations, but it follows the same structure in which five nations control it. It's an anti-democratic structure (Adolfo Perez Esquivel).
  • We must apply our humble efforts to the construction of a more just and humane world. And I want to declare emphatically: Such a world is possible. To create this new society, we must present outstretched and friendly hands, without hatred and rancor, even as we show great determination and never waver in the defense of truth and justice. Because we know that we cannot sow seeds with clenched fists. To sow we must open our hands (Adolfo Perez Esquivel).

  • Kita tidak bisa menabur benih dengan kepalan tangan. Untuk menabur benih kita harus membuka tangan kita (Adolfo Perez Esquivel).
  • Non-kekerasan (non-violence) adalah penghormatan mutlak bagi setiap umat manusia (Adolfo Perez Esquivel).


  • Hasil gambar untuk adolfo perez esquivel
    Aldolfo Perez Esquivel

  • We know that peace is only possible when it is the fruit of justice. True peace is a profound transformation by means of the force of nonviolence that is the power of love (Adolfo Perez Esquivel).
  • The social order we seek is not a utopia. It is a world where political life is understood in terms of active participation by the governors and the governed in the realization of the common good” (Adolfo Perez Esquivel).
Demikianlah beberapa kata mutiara (quotation) dari salah satu tokoh terkemuka Argentina, seorang yang dengan gigih memperjuangkan dan membela Hak Asasi Manusia (HAM). Semoga bermanfaat !


*
Aldolfo Perez Esquivel adalah seorang seniman,  pejuang anti kekerasan, dan aktivis hak asasi manusia Argentina yang pikiran-pikirannya sangat dihomati (Bambang Singgih,Politikus)
*

Minggu, 25 Februari 2018

Indonesia


Ngunandiko.144






Indonesia



Sumpah pemuda, 28 Oktober 1928, di Jakarta a.l menyatakan bahwa : “Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia”, kiranya sampai saat ini  sumpah itu belum sepenuhnya menjadi suatu kenyataan.

“Ngunandiko” dengan judul  "Indonesiaini  berisikan bahasan dan renungan singkat tentang Indonesia. Utamanya bahasan dan renungan tentang bangsa Indonesia, yaitu bangsa dari Negara  Republik Indonesia yang diproklamasikan berdirinya oleh Sukarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sebelum kita meneruskan bahasan dan renungan tentang Indonesia ini, kiranya lebih baik jika kita terlebih dahulu melihat definisi bangsa menurut  para ahli dan tokoh-tokoh terkemuka sbb :

1. Menurut Ernest Renan 1823 – 1893 (ilmuwan Perancis) : Bangsa adalah sekelompok manusia yang berada dalam suatu ikatan batin yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah serta cita-cita yang sama ;

2. Menurut Otto Bauer 1881 - 1938 (ilmuwan Jerman) : Bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki persamaan karakter karena persamaan nasib dan pengalaman sejarah budaya yang tumbuh berkembang bersama dengan tumbuh berkembangnya bangsa ;

3. Menurut Benedict Anderson 1936 - 2015 (ilmuwan Amerika Serikat): Bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat ;

4. Menurut Hans Kohn 1891 – 1971 (ilmuwan Amerika Serikat) : Bangsa itu terjadi karena adanya persamaan ras, bahasa, adat istiadat dan Agama yang menjadi pembeda antara bangsa satu dan bangsa lain.


5. Menurut Ki Bagoes Hadikoesoemo 1890 – 1954 (politikus Indonesia) : Bangsa ialah bersatunya orang dengan tempat ia berada, persatuan antara orang dengan wilayah ;

6. Menurut : Soekarno 1901 - 1970 (politikus Indonesia) : Suatu bangsa disamping memiliki ciri-ciri tertentu juga harus ditandai oleh adanya kesamaan rasa cinta tanah air

Seperti diketahui Indonesia terdiri atas gugusan pulau-pulau  yang   oleh penulis terkenal Multatuli dikiaskan sebagai “untaian mutiara yang melingkari khatulistiwa” di kawasan Asia Tenggara. Negara Republik Indonesia ini diproklamasikan berdirinya oleh Sukarno – Hatta di Jakarta pada  17 Agustus 1945.  

Semula Indonesia ini terdiri dari kerajaan-kerajaan dan  daerah-daerah merdeka dan berdaulat. Indonesia juga terkenal sebagai sumber rempah-rempah yang menarik kedatangan bangsa-bangsa Eropa  seperti bangsa Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol. Bangsa-bangsa tersebut saling berlomba dan bersaing untuk menguasai perdagangan bahan-bahan penting  itu. Indonesia yang semula terdiri dari kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah merdeka dan berdaulat itu, dengan berbagai cara  (a.l divide et impera) akhirnya dapat dikuasai dan dijajah oleh Belanda.

Pada awalnya Belanda mendirikan perusahaan dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada 20 Maret 1602, yang diberi hak istimewa seperti hak  berperang, membangun benteng,  membuat perjanjian dan lain-lain. Kemudian VOC mendirikan kantor di Batavia (sekarang Jakarta), yang menjadi pusat jaringan perdagangan VOC di Asia. VOC  menerapkan monopoli atas perdagangan pala, paprika, cengkeh dan kayu manis, namun VOC juga memperkenalkan tanaman-tanaman asing seperti kopi, teh, kakao, tembakau, karet, gula, dan opium.

Untuk menjaga kepentingannya, VOC mengambil   alih   dan menguasai wilayah-wilayah disekitarnya. Namun pada  akhir   tahun   1800, VOC bangkrut dan kemudian bubar. Hal itu karena  korupsi, membiayai perang, dan kesalahan manajemen lainnya. Wilayah-wilayah VOC di Asia Tenggara, termasuk sebagian besar Jawa, sebagian Sumatera, sebagian besar  Maluku, dan daerah-daerah pedalaman serta pelabuhan-pelabuhan seperti Makassar, Menado, Kupang lalu diambil alih oleh pemerintah kerajaan Belanda lalu disebut-nya sebagai Hindia Belanda.

Pada masa Perang Dunia II Hindia Belanda 1942 - 1945 diduduki oleh Bala Tentara Jepang. Dan pada akhir Perang Dunia II, Sukarno – Hatta atas desakan para pemuda pada tanggal 17 Agustus 1945 mem-proklamasi-kan berdirinya Republik Indonesia, seperti telah dikemukakan dimuka. Dengan berdirinya Republik Indonesia itu, maka Hindia Belanda berubah menjadi  Negara Republik Indonesia, penduduk Hindia Belanda menjadi  warga Negara Republik Indonesia, dan bahasa Nasionalnya adalah bahasa Indonesia.


Sekarang marilah kita bahas dan kita renungkan bersama Indonesia cq. Negara Republik Indonesia itu yang mencakup :

(1) wilayah Negara Republik Indonesia ;

(2) warga Negara Republik Indonesia ; dan

(3) bahasa nasional Indonesia.

Mengenai ketiga butir tersebut diatas, Kongres Pemuda  tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta menyatakan, bahwa para pemuda  berbagai suku  (Ambon, Jawa, Sumatera dan lain-lain) sepakat untuk bersumpah bahwa :

·                             Kami bertanah air satu, tanah air Indonesia ;
·                           Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia ;
·                           Kami berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Sebagaimana diketahui isi sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 itu, kini (2018) sebagian  besar telah menjadi kenyataan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diproklamasikan oleh Sukarno – Hatta pada 17 Agustus 1945 telah tegak berdiri dan diakui oleh masyarakat dunia. Hal itu berarti dari sisi kewilayahan, tanah air satu,  seperti  dalam sumpah pemuda  Kami bertanah air satu, tanah air Indonesia”,  kiranya dapat dikatakan telah selesai. Papua (d/h Irian Barat) yang semula masih dikangkangi oleh Belanda, sejak Mei 1963 telah sepenuhnya menjadi wilayah  Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dibagi oleh pemerintah Republik Indonesia menjadi sejumlah Daerah  Tingkat  I  atau propinsi. Propinsi-propinsi itu beserta ibukotanya pada waktu ini (2018) adalah  seperti  berikut :

 

 

Provinsi-provinsi di Indonesia & Ibukotanya


No.
Provinsi
Ibukota
Keterangan
01
Nanggro Aceh Darussalam
Banda Aceh
Merupakan Daerah Istimewa
02
Sumatera Utara
Medan

03
Sumatera Barat
Padang

04
Riau
Pekan Baru

05
Kepulauan Riau
Tanjung Pinang

06
Jambi
Jambi

07
Sumatera Selatan
Palembang

08
Bangka Belitung
Pangkal Pinang

09
Bengkulu
Bengkulu

10
Lampung
Bandar Lampung

11
Jakarta
Jakarta
Merupakan Daerah Khusus Ibukota
12
Jawa Barat
Bandung

13
Banten
Serang

14
Jawa Tengah
Semarang

15
Daerah Istimewa Yogyakarta
Yogyakarta
Merupakan Daerah Istimewa
16
Jawa Timur
Surabaya

17
Bali
Denpasar

18
Nusa Tenggara Barat
Mataram

19
Nusa Tenggara Timur
Kupang

20
Kalimantan Barat
Pontianak

21
Kalimantan Tengah
Palangkaraya

22
Kalimantan Selatan
Banjarmasin

23
Kalimantan Timur
Samarinda

24
Kalimantan Utara
Tanjung Selor

25
Sulawesi Utara
Manado

26
Sulawesi Barat
Mamuju

27
Sulawesi Tengah
Palu

28
Sulawesi Tenggara
Kendari

29
Sulawesi Selatan
Makassar

30
Gorontalo
Gorontalo

31
Maluku
Ambon

32
Maluku Utara
Sofifi

33
Papua Barat
Manokwari

34
Papua
Jayapura
d/h Ibukota Irian Jaya.





Jika dilihat dari sisi bahasa, maka sumpah pemuda “Kami berbahasa satu, bahasa Indonesia juga telah menjadi kenyataan. Bahkan sewaktu Hindia Belanda masih diduduki oleh tentara pendudukan Jepang pada Perang Dunia II (1942 – 1945), pemerintahan tentara pendudukan Jepang telah menetapkan bahasa Indonesia – dari bahasa Melayu Riau, Johor, dan daerah sekitar Selat Malaka – sebagai bahasa resmi. Kemudian hal itu dikukuhkan oleh pemerintah Republik Indonesia menjadi bahasa nasional Indonesia seperti termaktub dalam pasal 36  UUD RI  1945.

Namun sumpah pemuda yang menyatakan bahwa “Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia”, kiranya dapat dikatakan belum selesai, walaupun Negara Republik Indonesia kini (2018) telah berumur lebih dari 70  tahun.
Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Secara keseluruhan proporsi dan populasi seluruh suku bangsa utama di Indonesia – menurut sensus BPS tahun 2010 — adalah sebagai berikut : 



  
No
Suku Bangsa
Populasi (juta)
Persen (%)
Wilayah Utama
01
Jawa
95.20
40.20
Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Lampung
02
Sunda
36.70
15.50
Jawa Barat
03
Batak
8.50
3.58
Sumatra Utara
04
Madura
7.20
3.03
Pulau Madura
05
Betawi
6.80
2.88
Jakarta
06
Minang-kabau
6.50
2.73
Sumatra Brat, Riau
07
Bugis
6.30
2.69
Sulawesi Selatan
08
Melayu
5.30
2.27

09
Arab
5.00
2.10

10
Banten
4.60
1.97
Banten
11
Banjar
4.10
1.74
Kalimantan Selatan
12
Bali
3.90
1.67
Pulau Bali
13
Sasak
3.10
1.34
Pulau Lombok, Pulau Sumbawa.
14
Dayak
3.00
1.27
Pulau Kalimantan
15
Tionghoa
2.80
1.20
16
Makassar
2.70
1.13
Sulawesi Selatan
17
Cirebon
1.90
0.9
 Jawa Barat

Konflik masih sering terjadi antara suku-suku penduduk Indonesia itu, sebagian besar berkaitan dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) yang utamanya dipicu oleh kesenjangan ekonomi. Hal itu memberi indikasi bahwa “satu bangsa Indonesia” belum terbentuk dengan sempurna, suku-suku penduduk Indonesia (asli maupun keturunan Asing) – seperti terlihat pada daftar diatas –   belum sepenuhnya merasa sebagai satu bangsa Indonesia, sebagaimana sumpah  “Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia”.


Perbedaan budaya, bahasa, dan adat istiadat antar suku-suku  sangat kentara. Oleh karenanya, konflik antar suku – yang berakibat korban jiwa – masih  sering terjadi. Keadilan dan pendidikan dengan ketegasan dan konsistensi adalah kunci penyelesaian konflik antar suku.

Bahwa  suku-suku itu akan menjadi satu "bangsa Indonesia” kiranya masih harus terus dipupuk secara terus menerus. Gambaran  adanya konflik antar suku yang berkaitan dengan isu SARA itu antara lain tampak dari peristiwa-peristiwa  sbb :

  1. Konflik dengan suku China (Tionghoa) ; Konflik itu antara lain  berlangsung sepanjang masa orde lama. Pada tahun 1955 – 1965 banyak terjadi perselisihan antara penduduk asli Indonesia (pribumi) dengan  WNI keturunan China (Tionghoa). Orang-orang Tionghoa itu dituduh “tidak patriotik” dan tidak ikut serta berjuang dalam perang  kemerdekaan. Pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan peraturan  membatasi peran orang Tionghoa dalam politik, menganjurkan ganti nama dan lain-lain. Hal itu  menyebabkan orang Tionghoa lebih focus di bidang ekonomi (industry dan perdagangan), yang menyebabkan orang Tionghoa lebih maju  dibidang ekonomi. Kemajuan orang-orang Tionghoa dalam bidang ekonomi  itu ternyata telah menyebabkan kecemburuan social. Sesungguhnya kecemburuan itu telah ada sejak jaman penjajahan, karena  orang-orang Tionghoa diberi kedudukan lebih tinggi oleh Belanda. Oleh karena itu  konflik tidak dapat dihindari, lebih jauh para orang Tionghoa itu dituduh pula oleh penduduk asli Indonesia sebagai agen kolonial, melakukan praktek suap-menyuap, dan kecurangan lainnya.  Pemerintah pun lalu  memerintahkan dengan paksa agar para pedagang Tionghoa itu memindahkan usahanya hanya di kota-kota besar seperti yang terjadi a.l di Jawa Barat. Kemudian banyak Tionghoa mencoba pulang kembali ke negara asalnya (China Daratan), namun mereka tidak menemui keadaan seperti apa yang diharapkan. Akhirnya sebagian dari para Tionghoa tersebut pindah  ke Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brazil.

  2. Konflik  Sampit ; konflik ini merupakan kerusuhan antar etnis yang bermula pada Pebruari 2001 di kota Sampit, dan kemudian meluas ke seluruh Kalimantan Tengah termasuk di ibu kotanya Palangka Raya.  Konflik ini adalah antara suku Dayak (asli Kalimantan) dengan suku Madura warga migran dari pulau Madura, karena suku Dayak menganggap para  migran Madura itu selalu bertindak curang. Konflik  Sampit telah mengakibatkan lebih 500 orang mati dan 100.000 orang warga Madura kehilangan tempat tinggal.

  3. Konflik Poso ; Konflik ini berawal dari perkelahian antara sekelompok orang Muslim dengan sekelompok orang Kristen, pada Desember 1998 di Poso dan berlanjut sampai Mei 2000. Beberapa factor yang memicu konflik tersebut menjadi berkepanjangan utamanya adalah karena hal-hal sbb:

a. Dengan berakhirnya kekuasaan  orde-baru (1998) telah menimbulkan ketidak stabilan ekonomi, politik, serta kegoncangan social ;
b. Kegoncangan tersebut mempertajam persaingan memperebutkan posisi di jabatan-jabatan daerah antara kelompok-kelompok Nasrani dan Islam di Poso ; dan
c. Adanya persaingan dibidang ekonomi antara penduduk asli Poso dengan para pendatang seperti pedagang Bugis  dan transmigran dari Jawa ;

Semuanya itu akhirnya menimbulkan terjadinya bentrokan fisik  dan kekerasan yang berkepanjangan, bahkan dampaknya sampai awal abad ke-21 masih terasa. Untuk memadamkannya pemerinntah pusat terpaksa menerjunkan polisi  (Brimob) dan pasukan TNI.

  4. Konflik Ambon ; Seperti diketahui Indonesia adalah negara yang terdiri dari pulau-pulau dan  beragam suku, agama, dan  bahasa. Perbedaan suku, agama, bahasa dan perbedaaan-perbedaan lain (misalnya : perbedaan adat-istiadat, kesenjangan ekonomi dll) yang sering menimbulkan kesalah-pahaman dan konflik. Salah satu konflik yang menonjol adalah konflik   Ambon  (dikepulauan Maluku). Konflik  itu berlansung lama (1999 – 2002),  menewaskan hampir 5.000 nyawa, lebih kurang sepertiga dari penduduk Maluku dan Maluku Utara terpaksa mengungsi. Unsur-unsur gerakan sparatis juga berperan dalam konflik di Ambon (Maluku) ini.

  5. Konflik Aceh ; Konflik antara suku Aceh dengan suku Jawa ini menjadi menonjol menjelang berakhirnya pemerintahan orde-baru. Kekecewaan masyarakat Aceh yang merasa  dijajah  oleh suku Jawa meningkat, dalam hal ini suku Jawa  dipandang  identik dengan pemerintah Republik Indonesia. Masyarakat Aceh memberontak dan berusaha mengusir para transmigran suku  Jawa. Maka timbul konflik yang berkepanjangan antara pemerintah Republik Indonesia dan masyarakat Aceh (Gerakan Aceh Merdeka, lihat pula postname)yang memakan banyak korban. Unsur semangat sparatisme juga sering berperan dalam konflik di Aceh ini.
Teori konflik mengatakan bahwa adanya konflik itu perlu  dan penting untuk mewujudkan perubahan  social menjadi lebih baik. Namun konflik itu harus dapat dikendalikan, dengan adanya perjanjian damai (Agustus 2005), maka  konflik di Aceh ini diharapkan berakhir. Dan masyarakat Aceh dapat berubah ke arah yang lebih baik, tidak ada lagi pelanggaran hak asasi manusia (HAM), masyarakatnya damai dan sejahtera sebagai bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  6. Konflik Bangka : Konflik suku asli Bangka dengan suku Pendatang di Pulau Bangka ini merupakan salah satu contoh konflik antar suku yang terjadi akibat persaingan dalam pemanfaatan sumber daya yang terbatas. Konflik ini sebetulnya hanya dipicu oleh masalah  yang sepele, yakni kasus pemerasan terhadap seorang suku asli Bangka oleh beberapa orang pemuda dari suku pendatang.
Meski hanya dipicu oleh masalah sepele, namun konflik ini kemudian menjadi besar (ada korban jiwa dan puluhan  rumah pendatang dibakar) karena telah melibatkan isu SARA. Namun konflik social ini segera dapat ditangani oleh polisi (Polri) melakui proses rekonsiliasi (perundingan perdamaian) antar sesama bangsa Indonesia.

  7. Konflik Lampung : Konflik antara suku asli Lampung dan suku Bali pendatang ini merupakan salah satu contoh konflik antar suku yang terjadi di Indonesia. Konflik  Lampung ini berlangsung di sekitar tahun  2009 bermula dari adanya perselisihan antar warga, yang kemudian  menjadi konflik berdarah, penanganan cepat dan tanggap dari  kepolisian dan TNI menyebabkan konflik ini dapat segera diredam, sehingga jumlah korbanpun tidak terlalu banyak (l.k 12 orang tewas). Setelah ada perundingan perdamaian antara kedua belah pihak, maka kondisi masyarakat Lampung menjadi aman dan tertib kembali.

 
konflik di Papua


8. Konflik antar suku di Papua : Kita mungkin hanya mengenal bahwa masyarakat Papua memiliki latar belakang suku yang sama. Padahal, sesungguhnya jumlah suku asli di Papua adalah yang terbanyak di antara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Perbedaan budaya, bahasa, dan adat istiadat antar suku-suku di Papua juga sangat kentara. Oleh karenanya, konflik antar suku di Papua – yang berakibat korban jiwa –  masih  kerap terjadi hingga saat ini. Unsur sparatisme juga sering berperan dalam konflik di Papua. Keadilan dan pendidikan, yang disertai dengan ketegasan dan konsistensi, adalah kunci penyelesaian konflik antar suku di Papua ini.

Itulah 8 (delapan) contoh konflik antar suku yang pernah terjadi di Indonesia sepanjang lebih kurang 70 tahun.  Jika para pemuda telah bersumpah “Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia”, maka harus disadari bahwa kedewasaan dalam bergaul, rasa toleransi, saling menghargai, dan lain sebagainya adalah hal penting yang harus dimiliki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian konflik antar suku , utamanya konflik yang berkaian dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) tidak  terjadi lagi.

Sebagai penutup dari bahasan dan renungan singkat tentang Indonesia ini, ingin kami ajukan pertanyaan sudahkah butir ke-2 dari sumpah pemuda 28 Oktober 1928 : “Kami berbangsa satu, bangsa Indonesia” sudahkah tercapai ?.

Demikianlah semoga bahasan dan renungan ini bermanfaat !

*
If you want to bring an end to long-standing conflict, you have to be prepared to compromise (Aung San Suu Kyi)


*